clock

Friday, February 10, 2012

Pelaku Video Kekerasan ABG Terdeteksi

Setelah korbannya melapor, pada Selasa (7/02), hari itu juga dua pelaku diamankan. Salah seorang pelaku diduga bernama Okta, residivis dalam kasus penganiayaan April 2011 lalu.
Seperti diketahui, video kekerasan yang menghebohkan masyarakat Bali ini muncul d isejumlah jejaring sosial, Youtube.com. Video berdurasi lebih kurang 5,37 menit itu menyangkut perihal kekerasan yang dialami seorang ABG yang dikeroyok oleh enam rekannya.
Enam pelaku mengeroyok dan salah seorang merekam perbuatan tercela itu lewat kamera HP.
Motifnya diduga masalah pacar dan hutang piutang. Diketahui pula bahwa para pelaku dan korban ini merupakan para remaja putus sekolah yang tergabung dalam geng motor "CMP" atau Cewek Macho Performance, dipimpin Okta CMP sebagai ketua geng.
Dalam pengamatan Fajar Bali, di video tersebut terekam aksi anarkis enam remaja yang sedang berkumpul di balik tembok yang penuh corat coret. Di video tersebut juga terekam bagaimana para pelaku menghakimi seorang remaja berwajah ayu yang diduga rekan mereka.
Dari suara yang terdengar di video tersebut, enam pelajar ini tidak senang atas perbuatan korban yang berutang Rp200.000. Diduga, pertemuan di balik tembok itu sekadar menagih utang korban yang belum terbayarkan.
“Kapan ke bayar utang, ke yang benar janjinya. Ke juga selingkuh dengan Bayu dan Dede,” begitulah celetuk seorang pelaku dalam video tersebut.
Korban membantah perselingkuhan itu. Namun soal utang Rp 200 ribu, korban yang saat itu mengenakan baju kaos warna ungu, hanya bisa menjawab akan membayarnya namun masih menunggu ibunya gajian.
Tak terima atas jawaban korban, salah seorang remaja putri yang mengenakan baju hijau langsung marah dan menampar wajah korban. Tak ketinggalan, seorang remaja wanita yang sedang duduk di sepeda motor menghampiri korban dan menjambak rambut korban.
Meski korban menangis, enam remaja lainnya terus emosi. Remaja yang duduk di atas sepeda motor tadi kembali menghampiri korban dan marah. Baju kaos ungu korban digunting dari bawah hingga lengan atas.
Korban mencoba meronta. Namun pelaku terus marah dan kembali menggunting celana pendek korban hingga hanya mengenakan celana dalam.
Pelaku yang memegang gunting kemudian menjambak rambut korban dan memotongnya. Korban mencoba meronta tapi pelaku terus memotongnya.
“Masih mending rambut kamu yang dipotong daripada nyawa kamu hilang,” ketus pelaku berbaju krem dan mengenakan kacamata di atas rambut.
Belum puas memotong rambut, para pelaku lainnya ikutan marah dan menampar serta menjambak rambut korban. Aksi kekerasan itu terhenti setelah korban terlempar ke samping tembok akibat dorongan salah seorang pelaku.
“Kabur kaburr..,dia pingsan,”celutuk salah seorang pelaku. Mereka pun kabur dengan mengendarai sepeda motor. Salah satu sepeda motor terdeteksi berplat DK 7993 CY.
Sementara itu, lokasi pengeroyokan diduga berlatar-belakang lapangan luas dan tanah kapur. Di dekat lokasi tersebut terdapat Pura dan tendon air (tempat penyaringan air). Namun dari informasi yang beredar, ada dua kawasan yang dicurigai sebagai lokasi pengeroyokan. Satu di Pemogan dan di Pulau Serangan.
Menanggapi video kekerasan gadis Bali ini, Kapolresta Denpasar Kombes Pol I Wayan Sunartha mengatakan pihaknya akan menyelidiki kasus ini. Pihaknya mengakui masih menyelidiki kebenaran video tersebut apakah rekayasa.
“Kita masih memastikan apakah video ini ada apa tidak,” tegasnya didampingi Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hariadi, pada Selasa (06/02).
Pihak kepolisian katanya masih menunggu pihak yang merasa dirugikan untuk melaporkan aksi kekerasan di video tersebut.
“Korbannya belum melapor dan lokasinya masih kita selidiki dimana aksi kekerasan itu,” tegasnya.
Kapolresta mengatakan masyarakat tidak terpengaruh dengan adanya kejadian ini. Pihaknya segera mendalami petunjuk petunjuk yang ada, termasuk identitas korban dan pelaku.
Saat ditanya apakah pihak kepolisian bekerja sama dengan tim cyber crime dalam pengungkapan video kekerasan? Kombes Sunartha mengatakan, menyoal penyelidikan jajaran Polresta Denpasar akan menggunakan system keroyok dalam arti semua fungsi akan dilibatkan dalam penanganan sebuah kasus.
“Babinkamtibmas juga akan kita libatkan untuk mengusut kasus ini,” urainya.
Dalam kasus ini Polri tidak hanya menunggu masuknya laporan masuk tapi tetap menyelidikinya. “Diminta atau pun tidak, kita akan menyelidikinya. Artinya kita tidak harus menunggu laporan masuk baru bertindak.
Sementara itu Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hariadi mengatakan pihak kepolisian akan mempelajari lagi bukti bukti yang ada didalam video kekerasan tersebut. Diharapkan dalam pendalaman nantinya ada petunjuk apakah video tersebut bersumber dari Bali atau dari luar Bali.
“Kita akan kembangkan sejauh mana petunjuk dari video tersebut. Siapa yang melakukan pelanggaran dalam video tersebut akan kita tindak,” tegasnya.
Sementara itu, sumber petugas Polresta Denpasar menyebutkan, sehari beredarnya video tersebut, pada Senin (06/02), jajaran Perlindungan Perempuan dan Anak langsung action dilapangan. Petugas PPA mengamankan dua pelaku yang diduga pelaku penganiaya dari enam pelaku di video tersebut.
Diamankannya dua pelaku terkait masuknya laporan korban pada Selasa (07/02) sore. Salah seorang pelaku beridentitas OC, pelajar berstatus residivis dalam kasus penganiayaan April 2011 lalu.
“Dua pelaku sudah diamankan dan salah seorang pelaku berinisial OC, dulu terlibat kasus penganiayaan. Dia residivis,” jelas sumber minta namanya dirahasiakan.
Dibagian lain, korbannya yang ditemui di rumahnya mengatakan, kasus penganiayaan itu terjadi di daerah Glogor Carik, Denpasar Selatan, akhir Desember lalu. Pelakunya adalah tujuh temannya yang tergabung dalam geng motor "CMP" atau Cewek Macho Performance, terdiri Okta CMP yang juga ketua geng, Okta Kepaon, Maria, Rina, Diah Maria dan Wulan. Hingga kini, Kiki mengaku tidak tahu persis kesalahan yang telah diperbuat hingga harus dianiaya.
"Tuduhannya macam-macam, mulai dari tuduhan mengganggu cowok Okta, baju klub racing saya pake keset, ngembat duit dari penjualan memory handphone. Tapi belum sempat aku jelasin, mereka lalu mukul dan nendang," ujar remaja yang mengaku sudah setahun gabung di geng CMP ini.
Dia mengaku alasan dia bergabung dengan geng motor CMP hanya sebatas ingin tampil keren.
"Anggotanya sekitar 25 orang, kebanyakan nggak sekolah. Kegiatannya diantaranya touring, bikin kaos, stiker," imbuhnya.
Setelah video kekerasan itu beredar luas, Kiki mengaku sebagian pelaku beserta orangtuanya telah datang ke rumah untuk minta maaf dan meminta kasus ini tidak berlanjut ke proses hukum.
"Secara personal saya maafkan mereka, tapi banyak yang minta kasus ini diteruskan ke polisi," katanya.